REFLEKSI GERAKAN IQRA' DITUBUH IPM
Inilah masa
terbaik, sekaligus masa terburuk. Zaman kebijaksanaan, juga Zaman kebodohan.
Musim terang, sekaligus Musim Kegelapan. Musim saat pengharapan bersemi, tetapi
juga musim keputus-asaan yang dingin. Di hadapan kita, segala sesuatunya
terbentang. Di hadapan kita pula, kehampaan membayang. Kita semua akan langsung
diangkat ke Surga, atau akan berbondong-bondong ke jalan sebaliknya.
(a Tale of Two Cities, Charles Dickens)
Titik ego manusia diajak keluar
untuk memperhatikan pesona alam semesta yang terus tumbuh, berkembang dan
menunjukkan indahnya kekuasaanNya. Hanya mereka yang yang luas wawasannya,
gemar membaca tanda-tanda sekaligus mampu tersentuh oleh kekuatan kuasaNya bisa
menghidupkan ‘buku besar’ alam semesta. Marilah kita sejenak menengok
pesan-pesan untuk memahami alam semesta:
”Katakan
jelajahilah bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaannya itu:
Kemudian Allah menjadikan ciptaan lain (QS Al-Ankabut (29): 20)
“Tuhan
memutarkan peredaran siang dan malam. Di situlah terdapat pelajaran bagi mereka
yang luas pandangannya (QS Al-Nur (24): 44)
Membaca pada
dasarnya memang bisa mengeluarkan manusia dari egonya. Dibekali manusia dengan
pengetahuan sehingga mampu menaklukkan apa saja. Begitu rupa aktivitas membaca
sehingga tiap kali ditelusuri kemajuan peradaban selalu kuncinya ada pada buku.
Buku telah menikam kebodohan serta membuat manusia mengolah dan menerima
ide-ide baru. Manusia tanpa kegiatan membaca dan buku akan berakhir dalam
kubangan kebodohan. Tak ada pengetahuan yang dibawanya dan lebih menyukai apa
yang sudah terlanjur dipercayai.
Disisi yang
ekstrem manusia akan menjemput sebuah malapetaka karena memang tak mampu
melihat masa depan dan tak bisa memecahkan masalah yang ada. Daoed Joesoef
berkata: Manusia yang tidak memedulikan bacaan akan selalu ketinggalan buah
pikiran terbaik dan terbaru, tersisi dari perluasan pengalaman dan kehidupan
yang terbuka di mana terdapat yang hidup dan mati, di mana datang kembali yang
sudah lama tiada, di mana muncul yang belum pernah diketahui.
Itulah
sebabnya membaca jadi kekuatan yang membebaskan. Baik dari kebodohan maupun
pembangkangan pada Tuhan Sebut saja pujangga gereja yang dikenal dengan nama
Agustinus (354-430) Ia saat itu mengakui telah melakukan segala macam dosa.
Semua perintah Allah ditampik dan semua ancaman Allah diabaikan. Hingga hatinya
tentram lalu dirinya bersimpuh dalam tangis. Taubat menjemputnya lebih dulu.
Ketika itulah muncul suara yang nadanya serupa dengan nyanyian. Bunyinya
berulang-ulang: Tolle, lege, tolle, lege (Ambil
dan bacalah, ambil dan bacalah) Seraya menangis ia kemudian membuka kitab suci.
Dalam kitab suci itulah ada perintah agar ia tak berpesta pora dalam kemabukan,
jangan menuruti hawa nafsu, jangan iri hati dan dengki, jangan ia merawat
tubuhnya untuk memuaskan keinginannya, dan ia harus mengenakan pakaian Tuhan
sendiri.
Sebagai
pelajar muslim dengan gerakan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar,
Pentingnya bagi IPM untuk membumikan kembali etos membaca melalui Gerakan Iqra'
sebagai wujud kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, membebaskan diri dari
kebodohan, upaya menghadirkan pencerahan. Tentu sebagai pelajar muslim di era
millenial hari ini tidaklah mudah untuk mengembalikan spirit membaca (literasi)
ini. Maka perlu adanya upaya bagi IPM untuk mengemas event-eventnya semenarik
mungkin agar virus membaca ini dapat menular, agar kebermanfaatannya
dapat dirasakan bagi kader IPM itu sendiri dan pada umumnya untuk masyarakat
luas.
Seperti
halnya Gerakan 1000 IQRO' yang merupakan salah satu program IPM Mengabdi juga
perlu diapresiasi, selain didalamnya terdapat spirit literasy juga
terdapat nilai-nilai experience, adventure, dan traveling serta friendship
yang sangat berkesan bagi siapa saja yang terlibat maupun yang menyaksikan.
Pada intinya
begitulah implementasi membaca secara luas. Membacabukan hanya sebatas teks
(bukan berarti membaca teks tidak penting) namun juga mampu membaca lingkungan
hidup bermasyarakat dengan beramal kebaikan yang berlandaskan keimanan.
Membaca
membuat manusia berubah. Membaca membuat manusia tahu mana perbuatan tercela
dan mana yang terpuji. Sikap congkak manusia bisa diubah dengan bacaan. Karena
bacaan akan membuat manusia dialiri pemahaman sekaligus membuat manusia punya
angan-angan ideal. Maka pusat peribadatan selalu berhias bacaan. Karena Iman
dan pengetahuan bukan hal terpisah.
Penulis: M. Aditya Salam (Kabid
Perkaderan - PW IPM SUMSEL)
Mantapsss kak👏👍
BalasHapusKeren kak
BalasHapusBang, kasi push notifikasi di blognya, biar kita bisa update terus 😁
BalasHapus