KOMUNITAS IPM MENGABDI
(Eksperiment di Sungai Kong, Pantai Timur, Sumatera
Selatan)
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan
menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat
yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka
lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”
― Tan Malaka
IPM Mengabdi adalah suatu kegiatan yang bertujuan
membantu masyarakat tertentu dalam beberapa aktivitas tanpa mengharapkan
imbalan dalam bentuk apapun. Komunitas IPM Mengabdi bergerak dibidang
pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di pinggiran kota dan pedesaan.
Aktivitas yang dilakukan pun beragam seperti mengajar disekolah , mengadakan
pengajian/majelis ta’lim, melakukan pemberdayaan masyarakat, hingga pada menyentuh
pada aspek penyadaran dan pencerahan terhadap kaum pelajar dan masyarakat secara
umum.
Sekilas Cerita
KOMUNITAS IPM MENGABDI di Sungai Kong
“Jalan menuju
@sungaikong sangat memprihatinkan. Jalan tanah, dipenuhi lubang-lubang dalam yg
licin. Akses jalan jalur laut pun sulit diarungi ketika ombak sedang tinggi.
Garang, adalah sebutan
sekumpulan papan dan kayu yang dijadikan jalan sehari - hari warga berlalu
lalang didepan rumah.
Tempatnya tidak ada
listrik, tidak ada sinyal, bahkan sulit air bersih. Banyak keluhan, bahwa
anak-anak disini bnyak yg putus sekolah karena ekonomi, masalah keluarga, dan
karena berbagai hal.
Anak-anak yg sekolah
hanya pakai sendal, tidak berseragam. Bahkan ada yg sampai izin selama 3 bulan.
Masjid sepi, jamaah bisa diitung dengan jari, dan tidak ada aktivitas mengaji.
Anak muda banyak nongkrong dan menyanyi. Orangtua sibuk kerja dan bermain judi.
Sekilas potret suasana disini.
Ketika pertama datang
ke masjid untuk shalat maghrib, hanya 4 orang tua-tua. Dalam waktu 1-7 hari
berturut-turut, alhamdulillah masjid ramai jama'ah sampai lebih jumlah 100
orang.
Setelah shalat maghrib,
Kegiatan malam diisi pengajian Iqro' dan Al-Qur'an. Sampai-sampai kewalahan
karena jumlah yg ngaji tidak sebanding dgn pengajar yg hanya berjumlah 5 orang.
Akhirnya berinisiatif menyusun strategi, yg Qur'an mengajarkan yg Iqro.
Besok paginya, lanjut
bantu pak guru mengajar di SDN 01. Memberikan motivasi belajar dan spirit untuk
melanjutkan sekolah yang tinggi.
Cara yg bersahabat,
sambil bermain dan belajar. serta memberi hadiah puluhan jilbab, peci,
kaos-kaki, buku tulis dan buku-buku kisah 25 nabi bagi pelajar yang aktif.
Mereka antusia
Sorenya, nonton bareng
layar tancap khusus pelajar. Menyaksikan film "Laskar Pelangi". Sore
besoknya, Muhasabah. Penuh isak tangis. Malamnya, lanjut layar tancap film
"Sang Pencerah" bersama seluruh warga masyarakat.
Diwaktu senggang,
digunakan untuk berburu makanan laut dan memancing ikan di tambak bersama
nelayan. Banyak peristiwa banyak pembelajaran berharga yang tak bisa
diungkapkan semuanya lewat tulisan. Kami hanya bisa menitip pesan agar mereka
tetap semangat mengejar mimpi-mimpinya!”[1]
Kenapa harus IPM?
Ikatan Pelajar Muhammadiyah memiliki posisi,
potensi, dan peran istimewa dibandingkan organisasi pelajar lainnya. IPM juga
memiliki kebebasan dalam “bergerak” karena belum terikat kepentingan — kepentingan
yang dapat melunturkan idealisme mereka. Ketika IPM yang turun ke masyarakat,
mereka seharusnya dapat menjadi representasi dari individu yang memiliki
pemikiran dan niat yang tulus. Dari identitas tersebut, secara tersirat dapat
menjelaskan bahwa IPM mempunyai tangung jawab secara intelektual, sosial, dan
moral kepada masyarakat sesuai dengan Ijtihad kaum pinggiran Marhaenis
Muhammadiyah.
IPM yang juga mempunyai azas kemanusiaan dapat
mengandalkan kemampuan dan kualitas kader-kadernya untuk bereksplorasi ditengah
masyarakat. IPM, dalam melaksanakan fungsi dan kewajiban tersebut, sudah banyak
diwadahi dengan komunitas berbasis bidang keilmuan maupun minat, dengan beragam
latar belakang, visi wadah, dan bakat masing-masing. Keberagaman ini juga dapat
memicu adanya kolaborasi yang sinergis antara dua wadah atau lebih sehingga
menjadi sangat mungkin untuk berpikir bahwa kegiatan pengabdian masyarakat
menjadi sesuatu yang menarik dan bervariatif tetapi dengan tetap memegang
idealisme masing-masing kelompok.
Dalam bentuk apakah pengabdian masyarakat yang ideal
dari optimalisasi kemampuan?
Pengabdian masyarakat adalah bentuk aktualisasi Pelopor,
Pelangsung, dan Penyempurna serta eskalasi potensi dalam diri kader IPM dengan
ilmu yang sudah diterima, alangkah baiknya pengabdian masyarakat dikemas dengan
bentuk yang sangat simpel dan sederhana tetapi menjawab permasalahan yang
berada di masyarakat dan memiliki efek yang berkelanjutan. Mengingat bahwa
kondisi kesibukan individu dan adanya tanggung jawab sosial, moral dan
intelektual dalam melaksanakan pengabdian masyarakat, maka terdapat beberapa
bentuk pengabdian masyarakat, seperti:
1. Gerakan Pelajar Mengajar
Penyadaran dan penanaman persepsi bahwa pendidikan
itu penting bagi kehidupan mendatang. Juga mengajarkan dan membantu pemahaman
pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik (dalam hal ini adalah
masyarakat) untuk memiliki kecerdasan tambahan tentang hubungan timbal balik
antar lingkungan sosial, budaya dan alam serta dapat mengembangkan kemampuan
lebih lanjut dalam kegiatan pendidikan primer di sekolah.
2. Gerakan 1000 IQRO’
Kondisi masyarakat sekitar juga perlu menjadi
perhatian, seperti dalam hal kemampuan membaca Al-Qur’an. Seperti contoh kasus
di Sungai Kong hampir sebagian masyarakat sekitar buta huruf Al-Qur’an, maka
dari itu IPM berinisiasi untuk memberikan pengajaran mengaji dimulai dari Iqro
dan pembagian Iqro’ secara gratis, yang dimana kitab iqro’ tersebut diperoleh
dari donasi pelajar Muhammadiyah se-kota Palembang yang dinamai gerakan 1000
iqro.
3. Gerakan Back To Masjid
Setelah sekian lama masjid mati dari aktivitas
warga, tidak adanya aktivitas shalat berjamaah dan pengajian. Bahkan yang
sering terdengar adzan adalah sosok orang tua rentah yang tak jarang sekaligus
menjadi imam dan makmum karena tidak ada jama’ah. Inisiasi kegiatan mengaji dan
shalat berjama’ah oleh IPM banyak menarik perhatian warga sehingga banyak orangtua
yang tertarik untuk datang walau hanya sekedar duduk dan menunggu anaknya
mengaji. Pengajian disini bukan hanya sekedar dalam pembelajaran baca
al-Alqur’an, namun juga pemberian materi tentang tata cara wudhu, tuntunan
ibadah shalat, dan pembelajaran tausiyah da’i/da’iyah.
4. Bakti Sosial
Pemberian bantuan kepada warga terutama kaum pelajar
seperti pakaian muslim/muslimah, seragam sekolah, buku, dan alat tulis sebagai
bentuk motivasi yang IPM berikan kepada pelajar dan juga sebagai penyambung
rantai regenerasi dusun sungai kong dengan harapan mereka tetap semangat menempuh
pendidikan dan mencapai cita-cita. Selain itu juga, bakti social yang dilakukan
yaitu membantu para nelayan untuk menjaring ikan dilaut dan ditambak yang
kemudian hasil laut tersebut dikumpulkan, dibersihkan, dikemas, dan dijual
sebagai upaya peningkatan ekonomi warga sehari-hari.
5. Nobar Film Inspiratif
Melakukan refreshing yang berbau edukasi dan
motivasi melalui pemutaran film-film inspiratif, seperti film Laskar Pelangi
dan film Sang Pencerah. Pemutaran film ini dilakukan dimalam hari bersama seluruh
warga dan tokoh masyarakat setempat dengan dipandu oleh IPM. Alhasil, warga
sangat antuasias dikarenakan akses listrik yang belum ada selama ini
menyebabkan mereka jarang menonton film/televisi dan terhambat informasi.
Apa tindak lanjut dari program tersebut?
Tindak lanjut dari program yang diadakan oleh IPM
Mengabdi dalam hal ini adalah menyatukan berbagai tokoh setempat seperti guru,
tokoh agama, dan pejabat desa untuk saling bekerja sama dalam hal pengembangan
dan pembinaan pelajar yang ada didesa dengan terus mensosialisasikan pendidikan
dan penyediaan sekolah yang layak untuk anak desa serta pembentukan TPA (Tempat
Pembelajaran Al-Quran) di Masjid sekitar dengan melibatkan tokoh agama dan
beberapa guru ngaji yang dibiayai oleh pejabat desa. Harapannya kegiatan yang
dilakukan IPM hingga dibentuknya TPA tersebut sebagai stimulus agar kedepan
aktivitas pendidikan, pengajian, dan spirit berjama’ah ke masjid menjadi
rutinitas dan kebutuhan sehingga masyarakat tidak hanya berfikir bagaimana bisa
mencari makan sehari-hari, namun berusaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan,
keimanan, dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar