Kamis, 17 Januari 2019

Dakwah Traveling ala IPM Mengabdi


KOMUNITAS IPM MENGABDI
(Eksperiment di Sungai Kong, Pantai Timur, Sumatera Selatan)


“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”
Tan Malaka

IPM Mengabdi adalah suatu kegiatan yang bertujuan membantu masyarakat tertentu dalam beberapa aktivitas tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun. Komunitas IPM Mengabdi bergerak dibidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di pinggiran kota dan pedesaan. Aktivitas yang dilakukan pun beragam seperti mengajar disekolah , mengadakan pengajian/majelis ta’lim, melakukan pemberdayaan masyarakat, hingga pada menyentuh pada aspek penyadaran dan pencerahan terhadap kaum pelajar dan masyarakat secara umum.

Sekilas Cerita KOMUNITAS IPM MENGABDI di Sungai Kong
“Jalan menuju @sungaikong sangat memprihatinkan. Jalan tanah, dipenuhi lubang-lubang dalam yg licin. Akses jalan jalur laut pun sulit diarungi ketika ombak sedang tinggi.

Garang, adalah sebutan sekumpulan papan dan kayu yang dijadikan jalan sehari - hari warga berlalu lalang didepan rumah.

Tempatnya tidak ada listrik, tidak ada sinyal, bahkan sulit air bersih. Banyak keluhan, bahwa anak-anak disini bnyak yg putus sekolah karena ekonomi, masalah keluarga, dan karena berbagai hal.

Anak-anak yg sekolah hanya pakai sendal, tidak berseragam. Bahkan ada yg sampai izin selama 3 bulan. Masjid sepi, jamaah bisa diitung dengan jari, dan tidak ada aktivitas mengaji. Anak muda banyak nongkrong dan menyanyi. Orangtua sibuk kerja dan bermain judi. Sekilas potret suasana disini.

Ketika pertama datang ke masjid untuk shalat maghrib, hanya 4 orang tua-tua. Dalam waktu 1-7 hari berturut-turut, alhamdulillah masjid ramai jama'ah sampai lebih jumlah 100 orang.

Setelah shalat maghrib, Kegiatan malam diisi pengajian Iqro' dan Al-Qur'an. Sampai-sampai kewalahan karena jumlah yg ngaji tidak sebanding dgn pengajar yg hanya berjumlah 5 orang. Akhirnya berinisiatif menyusun strategi, yg Qur'an mengajarkan yg Iqro.

Besok paginya, lanjut bantu pak guru mengajar di SDN 01. Memberikan motivasi belajar dan spirit untuk melanjutkan sekolah yang tinggi.

Cara yg bersahabat, sambil bermain dan belajar. serta memberi hadiah puluhan jilbab, peci, kaos-kaki, buku tulis dan buku-buku kisah 25 nabi bagi pelajar yang aktif. Mereka antusia
Sorenya, nonton bareng layar tancap khusus pelajar. Menyaksikan film "Laskar Pelangi". Sore besoknya, Muhasabah. Penuh isak tangis. Malamnya, lanjut layar tancap film "Sang Pencerah" bersama seluruh warga masyarakat.

Diwaktu senggang, digunakan untuk berburu makanan laut dan memancing ikan di tambak bersama nelayan. Banyak peristiwa banyak pembelajaran berharga yang tak bisa diungkapkan semuanya lewat tulisan. Kami hanya bisa menitip pesan agar mereka tetap semangat mengejar mimpi-mimpinya!”[1]

Kenapa harus IPM?
Ikatan Pelajar Muhammadiyah memiliki posisi, potensi, dan peran istimewa dibandingkan organisasi pelajar lainnya. IPM juga memiliki kebebasan dalam “bergerak” karena belum terikat kepentingan — kepentingan yang dapat melunturkan idealisme mereka. Ketika IPM yang turun ke masyarakat, mereka seharusnya dapat menjadi representasi dari individu yang memiliki pemikiran dan niat yang tulus. Dari identitas tersebut, secara tersirat dapat menjelaskan bahwa IPM mempunyai tangung jawab secara intelektual, sosial, dan moral kepada masyarakat sesuai dengan Ijtihad kaum pinggiran Marhaenis Muhammadiyah.

IPM yang juga mempunyai azas kemanusiaan dapat mengandalkan kemampuan dan kualitas kader-kadernya untuk bereksplorasi ditengah masyarakat. IPM, dalam melaksanakan fungsi dan kewajiban tersebut, sudah banyak diwadahi dengan komunitas berbasis bidang keilmuan maupun minat, dengan beragam latar belakang, visi wadah, dan bakat masing-masing. Keberagaman ini juga dapat memicu adanya kolaborasi yang sinergis antara dua wadah atau lebih sehingga menjadi sangat mungkin untuk berpikir bahwa kegiatan pengabdian masyarakat menjadi sesuatu yang menarik dan bervariatif tetapi dengan tetap memegang idealisme masing-masing kelompok.

Dalam bentuk apakah pengabdian masyarakat yang ideal dari optimalisasi kemampuan?
Pengabdian masyarakat adalah bentuk aktualisasi Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna serta eskalasi potensi dalam diri kader IPM dengan ilmu yang sudah diterima, alangkah baiknya pengabdian masyarakat dikemas dengan bentuk yang sangat simpel dan sederhana tetapi menjawab permasalahan yang berada di masyarakat dan memiliki efek yang berkelanjutan. Mengingat bahwa kondisi kesibukan individu dan adanya tanggung jawab sosial, moral dan intelektual dalam melaksanakan pengabdian masyarakat, maka terdapat beberapa bentuk pengabdian masyarakat, seperti:

1. Gerakan Pelajar Mengajar
Penyadaran dan penanaman persepsi bahwa pendidikan itu penting bagi kehidupan mendatang. Juga mengajarkan dan membantu pemahaman pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik (dalam hal ini adalah masyarakat) untuk memiliki kecerdasan tambahan tentang hubungan timbal balik antar lingkungan sosial, budaya dan alam serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam kegiatan pendidikan primer di sekolah.

2. Gerakan 1000 IQRO’
Kondisi masyarakat sekitar juga perlu menjadi perhatian, seperti dalam hal kemampuan membaca Al-Qur’an. Seperti contoh kasus di Sungai Kong hampir sebagian masyarakat sekitar buta huruf Al-Qur’an, maka dari itu IPM berinisiasi untuk memberikan pengajaran mengaji dimulai dari Iqro dan pembagian Iqro’ secara gratis, yang dimana kitab iqro’ tersebut diperoleh dari donasi pelajar Muhammadiyah se-kota Palembang yang dinamai gerakan 1000 iqro.

3. Gerakan Back To Masjid
Setelah sekian lama masjid mati dari aktivitas warga, tidak adanya aktivitas shalat berjamaah dan pengajian. Bahkan yang sering terdengar adzan adalah sosok orang tua rentah yang tak jarang sekaligus menjadi imam dan makmum karena tidak ada jama’ah. Inisiasi kegiatan mengaji dan shalat berjama’ah oleh IPM banyak menarik perhatian warga sehingga banyak orangtua yang tertarik untuk datang walau hanya sekedar duduk dan menunggu anaknya mengaji. Pengajian disini bukan hanya sekedar dalam pembelajaran baca al-Alqur’an, namun juga pemberian materi tentang tata cara wudhu, tuntunan ibadah shalat, dan pembelajaran tausiyah da’i/da’iyah.

4. Bakti Sosial
Pemberian bantuan kepada warga terutama kaum pelajar seperti pakaian muslim/muslimah, seragam sekolah, buku, dan alat tulis sebagai bentuk motivasi yang IPM berikan kepada pelajar dan juga sebagai penyambung rantai regenerasi dusun sungai kong dengan harapan mereka tetap semangat menempuh pendidikan dan mencapai cita-cita. Selain itu juga, bakti social yang dilakukan yaitu membantu para nelayan untuk menjaring ikan dilaut dan ditambak yang kemudian hasil laut tersebut dikumpulkan, dibersihkan, dikemas, dan dijual sebagai upaya peningkatan ekonomi warga sehari-hari.

5. Nobar Film Inspiratif
Melakukan refreshing yang berbau edukasi dan motivasi melalui pemutaran film-film inspiratif, seperti film Laskar Pelangi dan film Sang Pencerah. Pemutaran film ini dilakukan dimalam hari bersama seluruh warga dan tokoh masyarakat setempat dengan dipandu oleh IPM. Alhasil, warga sangat antuasias dikarenakan akses listrik yang belum ada selama ini menyebabkan mereka jarang menonton film/televisi dan terhambat informasi.

Apa tindak lanjut dari program tersebut?
Tindak lanjut dari program yang diadakan oleh IPM Mengabdi dalam hal ini adalah menyatukan berbagai tokoh setempat seperti guru, tokoh agama, dan pejabat desa untuk saling bekerja sama dalam hal pengembangan dan pembinaan pelajar yang ada didesa dengan terus mensosialisasikan pendidikan dan penyediaan sekolah yang layak untuk anak desa serta pembentukan TPA (Tempat Pembelajaran Al-Quran) di Masjid sekitar dengan melibatkan tokoh agama dan beberapa guru ngaji yang dibiayai oleh pejabat desa. Harapannya kegiatan yang dilakukan IPM hingga dibentuknya TPA tersebut sebagai stimulus agar kedepan aktivitas pendidikan, pengajian, dan spirit berjama’ah ke masjid menjadi rutinitas dan kebutuhan sehingga masyarakat tidak hanya berfikir bagaimana bisa mencari makan sehari-hari, namun berusaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, keimanan, dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.




[1] https://www.youtube.com/watch?v=3LE6pUxWd6o IPM Mengabdi - Dusun Sungai Kong


Tidak ada komentar:

Posting Komentar