Rabu, 22 November 2017

IPM dalam Mengakomodir berbagai Pemikiran


Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam eksistensinya telah berusia setengah abad lebih, diusia yang se tua ini Ikatan Pelajar Muhammadiyah telah banyak memberikan konstribusi baik berupa ide kreatif, gagasan baru, dan karya nyata untuk persyarikatan maupun bangsa Indonesia.

Namun dibalik itu, ada sebuah polemik yang seolah belum mampu terpecahkan dalam tubuh IPM, terutama peran IPM dalam mengakomodir berbagai macam pemikiran.

Banyak aktivis-aktivis IPM yang begitu loyal dan totalitas sewaktu di sekolah,  ketika ia menyelesaikan studi di sekolah dan beranjak ke dunia kampus loyalitas dan totalitasnya pun mulai berkurang bahkan hilang sama sekali.

Jika dilihat dari sisi lain, Bagi mahasiswa yang kuliah di kampus Muhammadiyah, kader IPM wajib bertransformasi ke IMM. namun, bagaiman dengan kader IPM yang berkuliah di kampus Negeri atau Swasta lain yang notabene nya Non-Muhammadiyah? Apakah kader IPM mampu berperan dengan tetap mempertahankan ideologinya?

Fakta dilapangan, mereka lebih gencar memilih UKMK/Organisasi kampus yang lebih menarik menurutnya, tanpa tahu asal-usul, seluk-beluk, dan ideologi organisasi tersebut.

Bahkan lebih memprihatinkan, aktivis IPM yang malah mengasingkan diri di kampus, jauh dari segala kegiatan UKMK/Organisasi.

Miris sebenarnya, jika kita direnungkan aktivis IPM yang sudah menyandang "Kader" mengapa seolah terombang ambing dengan berbagai macam pemikiran.

Inilah pentingnya bagi IPM untuk kembali memperkuat penanaman ideologi sejak dini, agar ketika kader itu dilepas maka ia akan tetap mewarnai lingkungan tanpa harus menghilangkan ideologi dan identitas nya sebagai kader IPM. Terutama ini menjadi tugas para Fasilitator sebagai motor penggerak perkaderan untuk memberikan perhatian khusus, dan membuat sistem pengkaderan yang massif progressif.

Menurut Prof. Dr. Amien Rais dalam sebuah ceramahnya, kader adalah saka guru yang sifatnya permanen, tidak angin-anginan serta tidak mutungan. Dalam Muhammadiyah, khususnya Angkatan Muda Muhammadiyah, seseorang yang sudah mendeklarasikan dirinya berbakti terhadap ikatan, maka dengan segala konsekuensinya harus total dan tanpa pamrih. Kita juga bisa becermin pada perjuangan Rasulullah yang (pasti) tidak mampu berjuang sendirian dalam memperjuangkan Islam, beliau senantiasa didampingi oleh para sahabat (kader). Akhirnya, dapat kita rasakan sampai sekarang buah kerja keras beliau beserta sahabat-sahabatnya.


IPM juga agaknya perlu bercermin dengan IMM di PTN, yang tetap teguh memegang identitas dan ideologinya, yang justru kebanyakan aktivis IMM tidak berlatarbelakang IPM ataupun Alumni Sekolah Muhammadiyah. Apalagi sekarang IMM sudah banyak di Kampus UIN,  Toh mengapa saat ini, aktivis IPM tidak mampu untuk bertransformasi kader dan melanjutkan perjuangan dakwah Muhammadiyah lewat IMM? bahkan di Kampus Muhammadiyah pun kader IPM cuma jadi penonton tanpa ikut terlibat dalam berbagai kegiatan dan aksi? bahkan ada yang terjebak dengan ideologi gerakan lain, dengan alasan dan dalil yang beragam. Inilah semakin memperkuat bukti bahwa sampai sampai saat ini pun IPM belum benar-benar mampu untuk mengakomodir berbagai pemikiran para kadernya.

Penulis: M. Aditya Salam (Kabid Perkaderan PW IPM SUMSEL/Sekretaris Umum IMM UIN Raden Fatah Palembang)

Pantaskah Kau di Juluki IMMawati?




        Bukan hal tabu lagi jika seorang IMMawati sering menanyakan “Apakah pantas saya mendapat gelar IMMawati?”. Ya, tentu semua aktivis ikatan sudah tahu bahwa IMMawati adalah sebuah julukan bagi aktivis perempuan yang berkecimpung dan bernaung di organisasi yang bejas merah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun tidak banyak kader ikatan yang bertanya-tanya mengenai jukulan yang khas dari organisasi ini, baik itu julukan IMMawan maupun IMMawati. Bisa jadi karena mereka hanya sekedar tahu bahwa kader yang telah berkecimpung di IMM terlebih sudah mengikuti perkaderan dasar mendapat tambahan gelar di nama depannya dengan IMMawan bagi kader ikatan laki-laki dan IMMawati bagi kader ikatan perempuan, karena sudah membudanyanya gelar ini di dalam organisasi IMM tanpa mau mencoba bertanya kenapa di juluki IMMawan? kenapa dijuluki IMMawati?

        Sebagai kader biasa di IMM tentu saya tidak serta merta mempermasalahkan penambahan gelar baik itu IMMawan atupun IMMawati yang disematkan untuk para kader-kader IMM. Yang menjadi persoalan ketika mereka yang berbangga diri berjuluk IMMawan ataupun IMMawati tetapi tidak mencerminkan diri sebagai kader ikatan. Tentu ini akan menjadi persolan baru bagi IMM jika hal ini dilakukan oleh banyak kader ikatan terlebih IMMawati.

        Perlu dipahami bahwa IMMawati bukanlah sebuah gelar bagi aktivis perempuan yang bernaung ataupun berkecimpung di IMM. Jika IMMawati itu sebuah gelar tentu tidak semua perempuan di IMM pantas mendapatkannya karena mustahil apa yg menjadi tujuan suci IMM sudah mereka upayakan untuk mencapainya dalam konteks ini tentu IMMawati. Penambahan nama ataupun penyebutan IMMawati hanyalah menjadi identitas ataupun ciri khas bagi IMM untuk menyebut aktivis perempuannya layaknya penyebutan Kohati dalam HMI, IPMawati dalam IPM dan lain sebaginya.

        Bagi saya pantas atau tidak pantas mereka disebut ataupun dijuluki dengan gelar IMMawati tentu masing-masing IMMawati bisa berkaca dengan dirinya sendiri dengan apa yang sudah mereka lakukan dalam IMM apakah mereka benar-benar memperjuankan dakwah Islam, beramar makruf nahi mungkar dikalangan perempuan ataupun mereka yang hanya bermain-main dengan dalih belajar tanpa mau memulai gerakan yang nyata bagi IMM.

       Kalau kita melihat realitas gerakan IMMawati tentu disetiap daerah akan sangat beragam itu yang akan membuat persepsi anda kabur mengenai IMMawati. Hal ini bukan hanya kita lihat bagaimana IMMawati berpakaian tapi juga dalam hal bagaimana progres IMMawati dalam gerakannya. Pengaburan ini tentu bukan karena IMM tidak mempunyai standarisasi bagi IMMawati dalam level nasioanal, tapi karena IMM menerima semua kader yang mau berproses untuk belajar memahami Islam berupaya beramar ma’ruf nahi mungkar dan bersungguh-sungguh berdakwah lewat organisasi ikatan.

        IMM tentu tidak seperti KAMMI, pencitraan kadernya (khususnya yang perempuan) tercermin dari pakaian yang dikenakan dan corak pemikiran dalam pemahaman keagamaan dengan pendekatan ideologis. Simbol yang ia ciptakan merupakan sebagai alat untuk mempersatukan emosional kadernya dan membedakan kadernya dengan organisasi lain (baca: semboyan ikatan dalam buku manifesto gerakan intlektual profetik). Berbeda dengan IMM bagi IMMawati yang dalam hal pakaian cenderung beragam tidak menekankan suatu standarisasi karena IMM menerima kader yang mau berproses layaknya seorang bayi yang baru lahir mereka harus merangkang kemudian merayap dan baru bisa berdiri. Begitulah gambarannya IMMawati dalam IMM, karena dalam IMM tentu tidak ada paksaan seperti ini itu, asalkan memenuhi syariat Islam dan tidak melanggar kode etik organisasi ikatan.

        Bagi saya IMMawati haruslah serorang Muslimah, seorang muslimah tentu mereka sudah paham mengenai Islam dan berupaya untuk mendakwahkannya sekecil apapun. Bagimana akan disebut sebagai IMMawati jika tidak mencerminkan diri sebagai muslimah. Walau seing bilang bahwa diri ini belum sempurna ke-Islamannya, tapi apakah hal itu lantas berkerut hati untuk tidak mendakwahkan Islam. Apakah tidak malu disebut sebagai kader dakwah tanpa mau meyerukan dakwah.(**)

Penulis: Andi Mahfuri
(Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan Pimpinan Cabang IMM Kabupaten Purworejo)