Bukan hal tabu lagi jika seorang IMMawati sering menanyakan
“Apakah pantas saya mendapat gelar IMMawati?”. Ya, tentu semua aktivis
ikatan sudah tahu bahwa IMMawati adalah sebuah julukan bagi aktivis
perempuan yang berkecimpung dan bernaung di organisasi yang bejas merah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun tidak banyak kader ikatan
yang bertanya-tanya mengenai jukulan yang khas dari organisasi ini, baik
itu julukan IMMawan maupun IMMawati. Bisa jadi karena mereka hanya
sekedar tahu bahwa kader yang telah berkecimpung di IMM terlebih sudah
mengikuti perkaderan dasar mendapat tambahan gelar di nama depannya
dengan IMMawan bagi kader ikatan laki-laki dan IMMawati bagi kader
ikatan perempuan, karena sudah membudanyanya gelar ini di dalam
organisasi IMM tanpa mau mencoba bertanya kenapa di juluki IMMawan?
kenapa dijuluki IMMawati?
Sebagai kader biasa di IMM tentu saya tidak serta merta
mempermasalahkan penambahan gelar baik itu IMMawan atupun IMMawati yang
disematkan untuk para kader-kader IMM. Yang menjadi persoalan ketika
mereka yang berbangga diri berjuluk IMMawan ataupun IMMawati tetapi
tidak mencerminkan diri sebagai kader ikatan. Tentu ini akan menjadi
persolan baru bagi IMM jika hal ini dilakukan oleh banyak kader ikatan
terlebih IMMawati.
Perlu dipahami bahwa IMMawati bukanlah sebuah gelar bagi aktivis
perempuan yang bernaung ataupun berkecimpung di IMM. Jika IMMawati itu
sebuah gelar tentu tidak semua perempuan di IMM pantas mendapatkannya
karena mustahil apa yg menjadi tujuan suci IMM sudah mereka upayakan
untuk mencapainya dalam konteks ini tentu IMMawati. Penambahan nama
ataupun penyebutan IMMawati hanyalah menjadi identitas ataupun ciri khas
bagi IMM untuk menyebut aktivis perempuannya layaknya penyebutan Kohati
dalam HMI, IPMawati dalam IPM dan lain sebaginya.
Bagi saya pantas atau tidak pantas mereka disebut ataupun dijuluki
dengan gelar IMMawati tentu masing-masing IMMawati bisa berkaca dengan
dirinya sendiri dengan apa yang sudah mereka lakukan dalam IMM apakah
mereka benar-benar memperjuankan dakwah Islam, beramar makruf nahi
mungkar dikalangan perempuan ataupun mereka yang hanya bermain-main
dengan dalih belajar tanpa mau memulai gerakan yang nyata bagi IMM.
Kalau kita melihat realitas gerakan IMMawati tentu disetiap daerah akan
sangat beragam itu yang akan membuat persepsi anda kabur mengenai
IMMawati. Hal ini bukan hanya kita lihat bagaimana IMMawati berpakaian
tapi juga dalam hal bagaimana progres IMMawati dalam gerakannya.
Pengaburan ini tentu bukan karena IMM tidak mempunyai standarisasi bagi
IMMawati dalam level nasioanal, tapi karena IMM menerima semua kader
yang mau berproses untuk belajar memahami Islam berupaya beramar ma’ruf
nahi mungkar dan bersungguh-sungguh berdakwah lewat organisasi ikatan.
IMM tentu tidak seperti KAMMI, pencitraan kadernya (khususnya yang
perempuan) tercermin dari pakaian yang dikenakan dan corak pemikiran
dalam pemahaman keagamaan dengan pendekatan ideologis. Simbol yang ia
ciptakan merupakan sebagai alat untuk mempersatukan emosional kadernya
dan membedakan kadernya dengan organisasi lain (baca: semboyan ikatan
dalam buku manifesto gerakan intlektual profetik). Berbeda dengan IMM
bagi IMMawati yang dalam hal pakaian cenderung beragam tidak menekankan
suatu standarisasi karena IMM menerima kader yang mau berproses layaknya
seorang bayi yang baru lahir mereka harus merangkang kemudian merayap
dan baru bisa berdiri. Begitulah gambarannya IMMawati dalam IMM, karena
dalam IMM tentu tidak ada paksaan seperti ini itu, asalkan memenuhi
syariat Islam dan tidak melanggar kode etik organisasi ikatan.
Bagi saya IMMawati haruslah serorang Muslimah, seorang muslimah tentu
mereka sudah paham mengenai Islam dan berupaya untuk mendakwahkannya
sekecil apapun. Bagimana akan disebut sebagai IMMawati jika tidak
mencerminkan diri sebagai muslimah. Walau seing bilang bahwa diri ini
belum sempurna ke-Islamannya, tapi apakah hal itu lantas berkerut hati
untuk tidak mendakwahkan Islam. Apakah tidak malu disebut sebagai kader
dakwah tanpa mau meyerukan dakwah.(**)
Penulis: Andi Mahfuri
(Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan Pimpinan Cabang IMM Kabupaten Purworejo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar