Kamis, 17 Januari 2019

REFLEKSI GERAKAN IQRA' DITUBUH IPM

REFLEKSI GERAKAN IQRA' DITUBUH IPM
Oleh: M. Aditya Salam

 
 

Inilah masa terbaik, sekaligus masa terburuk. Zaman kebijaksanaan, juga Zaman kebodohan. Musim terang, sekaligus Musim Kegelapan. Musim saat pengharapan bersemi, tetapi juga musim keputus-asaan yang dingin. Di hadapan kita, segala sesuatunya terbentang. Di hadapan kita pula, kehampaan membayang. Kita semua akan langsung diangkat ke Surga, atau akan berbondong-bondong ke jalan sebaliknya.

(a Tale of Two Cities, Charles Dickens)
 
           
Titik ego manusia diajak keluar untuk memperhatikan pesona alam semesta yang terus tumbuh, berkembang dan menunjukkan indahnya kekuasaanNya. Hanya mereka yang yang luas wawasannya, gemar membaca tanda-tanda sekaligus mampu tersentuh oleh kekuatan kuasaNya bisa menghidupkan ‘buku besar’ alam semesta. Marilah kita sejenak menengok pesan-pesan untuk memahami alam semesta:

”Katakan jelajahilah bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaannya itu: Kemudian Allah menjadikan ciptaan lain (QS Al-Ankabut (29): 20)

“Tuhan memutarkan peredaran siang dan malam. Di situlah terdapat pelajaran bagi mereka yang luas pandangannya (QS Al-Nur (24): 44)


Membaca pada dasarnya memang bisa mengeluarkan manusia dari egonya. Dibekali manusia dengan pengetahuan sehingga mampu menaklukkan apa saja. Begitu rupa aktivitas membaca sehingga tiap kali ditelusuri kemajuan peradaban selalu kuncinya ada pada buku. Buku telah menikam kebodohan serta membuat manusia mengolah dan menerima ide-ide baru. Manusia tanpa kegiatan membaca dan buku akan berakhir dalam kubangan kebodohan. Tak ada pengetahuan yang dibawanya dan lebih menyukai apa yang sudah terlanjur dipercayai.

Disisi yang ekstrem manusia akan menjemput sebuah malapetaka karena memang tak mampu melihat masa depan dan tak bisa memecahkan masalah yang ada. Daoed Joesoef berkata: Manusia yang tidak memedulikan bacaan akan selalu ketinggalan buah pikiran terbaik dan terbaru, tersisi dari perluasan pengalaman dan kehidupan yang terbuka di mana terdapat yang hidup dan mati, di mana datang kembali yang sudah lama tiada, di mana muncul yang belum pernah diketahui.
 
Itulah sebabnya membaca jadi kekuatan yang membebaskan. Baik dari kebodohan maupun pembangkangan pada Tuhan Sebut saja pujangga gereja yang dikenal dengan nama Agustinus (354-430) Ia saat itu mengakui telah melakukan segala macam dosa. Semua perintah Allah ditampik dan semua ancaman Allah diabaikan. Hingga hatinya tentram lalu dirinya bersimpuh dalam tangis. Taubat menjemputnya lebih dulu. Ketika itulah muncul suara yang nadanya serupa dengan nyanyian. Bunyinya berulang-ulang: Tolle, lege, tolle, lege (Ambil dan bacalah, ambil dan bacalah) Seraya menangis ia kemudian membuka kitab suci. Dalam kitab suci itulah ada perintah agar ia tak berpesta pora dalam kemabukan, jangan menuruti hawa nafsu, jangan iri hati dan dengki, jangan ia merawat tubuhnya untuk memuaskan keinginannya, dan ia harus mengenakan pakaian Tuhan sendiri.

 Sebagai pelajar muslim dengan gerakan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar, Pentingnya bagi IPM untuk membumikan kembali etos membaca melalui Gerakan Iqra' sebagai wujud kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, membebaskan diri dari kebodohan, upaya menghadirkan pencerahan. Tentu sebagai pelajar muslim di era millenial hari ini tidaklah mudah untuk mengembalikan spirit membaca (literasi) ini. Maka perlu adanya upaya bagi IPM untuk mengemas event-eventnya semenarik mungkin agar virus membaca ini dapat menular, agar kebermanfaatannya  dapat dirasakan bagi kader IPM itu sendiri dan pada umumnya untuk masyarakat luas.

Seperti halnya Gerakan 1000 IQRO' yang merupakan salah satu program IPM Mengabdi juga perlu diapresiasi, selain didalamnya terdapat spirit literasy juga terdapat nilai-nilai experience, adventure, dan traveling serta friendship yang sangat berkesan bagi siapa saja yang terlibat maupun yang menyaksikan.

 Pada intinya begitulah implementasi membaca secara luas. Membacabukan hanya sebatas teks (bukan berarti membaca teks tidak penting) namun juga mampu membaca lingkungan hidup bermasyarakat dengan beramal kebaikan yang berlandaskan keimanan.

Membaca membuat manusia berubah. Membaca membuat manusia tahu mana perbuatan tercela dan mana yang terpuji. Sikap congkak manusia bisa diubah dengan bacaan. Karena bacaan akan membuat manusia dialiri pemahaman sekaligus membuat manusia punya angan-angan ideal. Maka pusat peribadatan selalu berhias bacaan. Karena Iman dan pengetahuan bukan hal terpisah.

Penulis: M. Aditya Salam (Kabid Perkaderan - PW IPM SUMSEL)